Penulis: hindriqu@gmail.com
Perjuangan itu sudah seharusnya diikuti dengan keikhlasan agar yang kita dapatkan segalanya menjadi berkah dan barokah. Ini
pun jikalau kita menyadari bahwa segala ibadah yang kita lakukan itu akan dipertanyakan oleh Allah SWT kelak dalam tidur panjang kita ketika kita berada didalam perut tanahNya. Tahukah bahwa seorang guru itu sudah seharusnya memiliki kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk:
1.Berkomunikasi lisan dan tulisan;
2.Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional;
3.Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik; dan
4. Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar;
Karena seorang guru perlu memiliki kemampuan khusus, kemampuan yang tidak mungkin dimiliki oleh orang yang bukan guru ”a teacher is person sharged with the responbility of helping orthers to learn and to behave in new different ways” (Cooper, 1990).
Oleh sebab itulah Sebelum kita mencerca siswa dan wali murid, maka kita harus intropeksi diri kita sendiri, apakah kita sebagai wali kelas sudah benar2 memberikan perhatian terhadap mereka?; Sudah benarkah cara kita memberikan perhatian tersebut?; Karena hal ini menunjukkan segi-segi kejiwaan dan perbuatan kita yang mencakup nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.
Jikalau masih ada diantara kita sebagai wali kelas menolak terlibat masuk didalam group wali murid dengan berbagai alasan sedangkan semua sudah mengetahui bahwa kita seringkali eksis dimedsos bahkan seringkali pula upload sesuatu di beranda media aplikasi , 🤔 maka stop tindakan, sikap dan perilaku yang sedemikian ini, Tak perlu kita menakut-nakuti siswa dengan berbagai hal, menuduh dan mendeskriminasikan siswa dan org tua dengan segala tuduhan dan ancaman yang dianggap tidak etis dalam mendidik peserta didik, tak perlu pula kita menyudutkannya demi menutupi semua kekurangan yang kita miliki, melainkan kita harus menyelesaikan segala kekurangan yang harus kita hadapi dengan bijak dan sabar dengan penuh toleransi. Pikirkan kembali sebelum berucap ,apa yang akan terjadi apabila tuduhan dan ancaman tersebut berbalik atau dikembalikan pada diri kita sendiri sebagai wali kelas? .
Perlu kita ketahui bahwa nilai-nilai perilaku manusia akan diukur menurut kebaikan dan keburukannya melalui ukuran norma agama, norma hukum, tata krama, dan sopan santun, atau norma budaya/adat istiadat suatu masyarakat atau suatu bangsa.”
Menurut Surya “2002:5”
Guru sebagai pendidik profesional selayaknya mempunyai citra baik di masyarakat, guru itu ditiru atau diturut dan di contoh.
Menurut Earl V. Pullias and James D. Young
”The teacher teaches in the centuries-old sense of teaching. He helps the developing student to learn things he does not know and to understand what he learns”. Artinya: Dalam berabad-abad guru mengajarkan rasa pengajaran, ia membantu mengembangkan siswa untuk belajar sesuatu yang tidak diketahui dan untuk memahami apa yang dipelajari).
Menurut Falsafah Jawa
Guru diartikan sebagai sosok tauladan yang harus di “gugu lan ditiru”. Dalam konteks falsafah jawa ini guru dianggap sebagai pribadi yang tidak hanya bertugas mendidik dan mentransformasi pengetahuan di dalam kelas saja, melainkan lebih dari itu Guru dianggap sebagai sumber informasi bagi perkembangan kemajuan masyarakat ke arah yang lebih baik.
Dengan demikian hendaklah kita lebih bijaksana dalam mengatasi semua permasalahan yang ada supaya kita dapat menunjukkan bahwa kita benar-benar ikhlas menjadi wali kelas yang dapat menampung semua aspirasi ,saran dan kritik dengan memberikan respon yang bijak dan benar; Karena bagaimanpun kita adalah pendidik yang menabur segala kebajikan , menanam Budi pekerti dan berjuang untuk memberikan percontohan yang baik dan benar untuk siswa tanpa mendeskriminasikannya dan merespon wali murid dengan santun tanpa menghina atau tanpa menyudutkannya melainkan berbaik sangka terhadap setiap orang ditempat kita berjuang membimbing dan mencerdaskan anak bangsa.
Selasa 8 Pebruari 2022